Sabtu, 24 Oktober 2009

Usaha tas lipat batik dari kain perca

Melirik Usaha Tas Lipat Batik Kain Perca Batik Dahlia Art



JAKARTA. Era kebangkitan pamor kain batik di Indonesia beberapa tahun belakangan membawa keberkahan bagi para pengusaha kerajinan tangan di pelbagai daerah. Tengok saja, banyak industri rumahan hingga perusahaan besar dengan bebas bisa mengkreasikan produknya dengan menggunakan bahan baku kain batik.

Keberkahan itu pun singgah pada Leni Indah Mangiri pengusaha industri kelas rumahan di Semarang. Produksi tasnya yang menggunakan bahan baku kain batik makin lama makin banyak peminatnya baik pasar lokal maupun internasional. Sebab, produk tasnya yang berselimut kain khas Indonesia itu menambah nilai jual produknya.

Tak hanya itu, keunikan lainnya dari produknya adalah tas buatannya ini bisa dilipat hingga kecil hingga berbentuk seperti dompet. Dan ketika retsletingnya dibuka, bentuknya pun bisa diubah menjadi tas dengan bentuk yang besar. Itulah sebabnya ia sebut produk uniknya ini dengan nama tas lipat. "Saya membuat tas lipat ini karena penggunaannya praktis tergantung keinginan, mau ukuran kecil atau besar bisa," katanya.

Usaha ini sebenarnya sudah ia kerjakan sejak dua tahun lalu dengan bermodal uang sebesar Rp 5juta hasil pinjaman dari sang ibu. Dari uang sebesar itu ia membeli mesin jahit, kelengkapan menjahit hingga kain perca dari konveksi dan pabrik kain di Semarang.

Ia memiliki ide menggunakan kain perca sebab waktu itu kakaknya yang seorang penjahit memiliki banyak bahan bekas jahitan berbentuk potongan-potongan kain perca yang sudah tak terpakai.

Dari sanalah ia berkreasi dengan menggunakan bahan perca batik untuk produk tas lipatnya. Dulu masih mempekerjakan dua pegawai karena pesanan masih belum banyak. "Tapi sekarang pesanan semakin banyak sehingga saya sudah dibantu oleh sepuluh pekerja," katanya.

Bahan baku yang digunakan untuk membuat tas lipat batik perca ini seperti benang, kain hitam, retsleting, karton untuk membuat pola dan bahan sintetik untuk membentuk badan tas. Ia membutuhkan kira-kira Rp 5juta untuk pengadaan bahan baku tersebut. "Itu belum pembelian kain perca batiknya, sekali beli bisa sampai Rp 15juta," ujarnya.

Kuantitas pembelian kain percanya bisa sampai satu truk penuh dalam sekali pembelian untuk keperluan bahan perca selama 1,5 bulan. Dalam sehari ia bisa memproduksi tas lipat batik hingga 100 buah dengan harga satuannya sebesar Rp 35.000. "Margin keuntungan yang saya dapat sebesar 35%," katanya.

Pemasaran tas lipat batiknya ini tidak hanya di Semarang saja, hingga kini tas lipat batiknya sudah meramaikan pasar Jakarta, Lombok, Jogjakarta, Sulawesi, Kalimantan hingga negara-negara di Eropa. "Merek tas lipat ini sudah saya patenkan sejak satu bulan lalu dengan nama Dahlia Art," ujarnya.

Pembeli dari luar negeri kerap ia dapatkan ketika sedang mengikuti pameran-pameran kerajinan tangan di Jakarta. Selain itu ia pun menjual produknya ini melalui website sehingga pasarnya bisa semakin luas.

Dalam sebulan rata-rata ia mendapatkan pemesanan tas lipat hingga 300 buah dengan omzet sekitar Rp 10,5 juta. "Tapi kalau sedang pameran transaksi pembelian bisa sampai Rp 30juta," katanya.

Leni tidak hanya memproduksi tas lipat batik saja, ia juga membuat selimut dengan bahan kain perca batik pula. Kontribusi terhadap pendapatan sebulannya pun cukup besar. "Kalau dihitung-hitung total omzet perbulan bisa mencapai Rp 20jutaan," katanya.

Dahlia Art

Jl. Siliwangi No. 500

Semarang, Jawa Tengah

Telp : 024-7601405, 024-8314625, 0816663905



Rizki Caturini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar